Sabtu, 04 April 2020


Kamis, 05 Maret 2020 13:16 WIB

Dewi Sartika

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Namanya diabadikan menjadi nama jalan, di banyak kota besar. Di Jakarta jalan Dewi Sartika bahkan lebih besar dan lebih ramai dibandingkan dengan jalan Kartini. Tapi, siapa yang sekarang ingat dengan sosok perempuan yang dianggap sebagai perintis pendidikan untuk kaum perempuan ini. Pada zaman ketika informasi tentang apapun di dunia ini bisa dicari lewat HP, tidak sulit untuk mengetahui mengapa nama perempuan ini diabadikan menjadi nama jalan dan oleh negara diberi gelar pahlawan nasional.



Dewi Sartika yang lahir pada tanggal 4 Desember 1884 di Cicalengka, adalah anak dari pasangan ningrat Sunda, R. Rangga Somanegara dan R.A. Rajapermas. Empat tahun setelah kelahirannya, di Banten tahun 1888 terjadi pemberontakan petani yang dipimpin oleh para ulama Islam sebagai reaksi terhadap semakin kerasnya represi pemerintah kolonial Belanda. Sebagai anak ningrat, selain dididik dalam tradisi Sunda yang kuat, Dewi Sartika kecil beruntung mendapatkan pendidikan barat dari asisten residen Belanda. Ketika umur lima tahun (1889) setelah ayahnya meninggal, dan ikut pamannya, Dewi Sartika ikut pindah ke Bandung, sebuah kota kolonial terbesar kala itu, setelah Batavia.

Pemberontakan petani di Cilegon yang menjadi bahan kajian Sartono Kartodirjo dalam disertasi doktornya di Universitas Amsterdam tahun 1966 ini hanyalah salah satu dari gejala kegelisahan rakyat yang terjadi hampir secara merata di seluruh Jawa akibat sistem tanam paksa yang hanya menguntungkan Belanda tapi memelaratkan rakyat. Para ulama, menjadikan Islam sebagai inspirasi perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan, dan menjanjikan datangnya Ratu Adil, Sang Imam Mahdi, yang akan menyelamatkan rakyat dari kesengsaraan yang diderita dalam dunia fana ini. Konteks sosial politik di tanah Pasundan ini penting untuk memahami mengapa Dewi Sartika tergerak untuk mempelopori pendidikan bagi kaum perempuan. Pada saat yang hampir bersamaan, Rohana Kudus dan Rahmah El Yunus juga mempelopori sekolah untuk perempuan di Sumatra Barat.

Daerah pinggiran dari Tanah Pasundan memang merupakan lokus kekejaman pemerintah kolonial yang bepilin dengan keangkuhan kaum feodalnya. Selain pemberontakan petani di Cilegon, sejarah juga mencatat kekejaman yang terjadi di Lebak yang hingga hari ini sebagian warganya masih seperti terus harus menanggung keterbelakangan dan kemiskinan. Multatuli, nama samaran dari Eduard Douwes Decker, seorang Belanda yang pernah ditugaskan sebagai resisen di Lebak, yang sepulangnya ke Belanda menuliskan ketidakadilan yang dilihatnya di Lebak dalam sebuah novel dalam bahasa Belanda dengan judul asli "Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij" (Bahasa Indonesia: "Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda"), yang terbit pada tahun 1860 untuk pertama kalinya. Novel tersebut berlatarbelakang sistem tanam paksa yang berlangsung pada masyarakat di daerah Lebak, Banten. Ketika tanam paksa dihentikan pada tahun 1870 penderitaan rakyat sudah mencapai klimaknya dan ketika tahun 1880-an berbagai peristiwa muncul, sulit untuk membantah akan eratnya hubungan antara rasa keterpinggiran dan kehendak untuk melakukan perubahan.

Dewi Sartika: Pahlawan nasional. Sumber foto: wikipedia

Tidak jelas, apakah Dewi Sartika, yang juga pandai berbahasa Belanda, terinspirasi oleh apa yang dilakukan oleh perempuan ningrat Jawa, Kartini, yang lahir lima tahun sebelumnya (1879-1904). Namun, seperti halnya Kartini pendahulunya,  Dewi Sartika, harus kita bayangkan sebagai pelopor dalam konteks sejarah masa itu, sebuah masa ketika hanya mereka yang berkelamin laki-laki dan tergolong ningrat, priyayi atau menak dan ajengan, yang memiliki kesempatan untuk mengengenjam pendidikan barat. Pemerintah kolonial saat itupun mulai memberikan pendidikan untuk meningkatkan harkat penduduk pribumi tapi untuk kepentingannya sendiri agar tersedia tenaga terdidik untuk menjalankan roda kolonialismenya. Oleh karena itu sangat bisa dimengerti jika kegiatan pendidikan yang dirintisnya pun harus dilihat sebagai kegiatan-kegiatan yang menekankan segi-segi ketrampilan untuk meningkatkan peran sebagai seorang istri yang  tujuannya masih terbatas untuk meningkatkan kualitas hidup berkeluarga secara lebih bermartabat.

Dari informasi yang terbatas tentang Dewi Sartika, kita mengetahui misalnya kalau pada awalnya kegiatan pendidikan itu diberi nama "Sekolah Keutamaan Istri" yang mencerminkan tidak jauhnya keterampilan yang diajarkan lebih dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas perempuan dalam kedudukannya sebagai seorang istri. Mungkin itu juga yang menyebabkan sesungguhnya apa yang dirintis oleh Dewi Sartika masih lebih sederhana dibandingkan dengan pemikiran-pemikiran Kartini sebagaimana kemudian terungkap dari surat-suratnya, yang menjangkau persoalan-persoalan yang lebih maju, seperti soal kebebasan dan kesetaraan kedudukan antara perempuan dan laki-laki.

Namun bagi zamannya, apa yang dilakukan oleh Dewi Sartika, membuka ruang sekolah untuk para istri dan untuk anak-perempuan, merupakan sesuatu yang bisa dikatakan sebagai revolusioner. Zaman ketika sebagian rakyat masih belum mengenal sekolah, melata dalam kemiskinan dan penindasan kolonial dan para feodal, apa yang dilakukan Dewi Sartika, sejatinya adalah sebuah pemberontakan terhadap tatanan lama yang menyekap posisi kaum perempuan, sebagai sekedar "konco wingking" (teman belakang) yang harus menerima kedudukannya sebagai perempuan yang lebih rendah dari laki-laki. Simone de Beauvoir pemikir dan pelopor emansipasi perempuan dari Perancis (1908-1986) menuangkan renungan dan kritiknya terhadap opresi yang dialami peremuan dalam buku yang menjadi sangat terkenal, "The second sex". Bagi Simone de Beauvoir, perempuan harus membebaskan diri dari posisinya yang cuma jadi pelengkap laki-laki.

Hari-hari ini kita menyaksikan apa yang telah dirintis oleh Dewi Sartika, dan tentu saja oleh Kartini pendahulunya, tentang perlunya memberikan pendidikan bagi perempuan agar bisa menjadi mitra sejajar dengan laki-laki seperti hendak dihela lagi mundur ke belakang. Betapa tidak, para wakil rakyat yang tidak sedikit di antaranya perempuan justru keluar dengan gagasan-gagasan yang ingin menempatkan kembali perempuan sebagai sekedar "konco wingking" dan "the second sex". Beberapa waktu lalu, kita dihebohkan oleh Undang-undang pornografi yang jelas-jelas menempatkan perempuan sekedar sebagai obyek. Belum lama ini, kita juga hendak dipaksa untuk menerima rancangan KUHP yang lagi-lagi ingin mengatur kehidupan privat dan memarjinalkan perempuan. Hari ini sebuah rencana undang-undang yang katanya dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan keluarga justru dinilai sebaga sesuatu yang justru anti keluarga. Perempuan selalu menjadi arena kontestasi dan menjadi obyek yang selalu ingin dikontrol oleh negara.

Membaca kembali riwayat Dewi Sartika, yang wafat dua tahun setelah proklamasi kemerdekaan, dan mencoba membandingkannya dengan apa-apa yang hari ini kita saksikan di masyarakat yang notabene telah lebih dari 74 tahun meredeka, sebuah usia yang bagi seorang manusia seharusnya telah menjadi manusia dewasa, kita justru seperti menyaksikan sebuah gerak mundur dari peradaban. Jika Dewi Sartika harus memperjuangkan cita-citanya di tengah alam kolonial dan negara penjajah, dan kita membaca betapa kemajuan demi kemajuan sedikit demi sedikit diraihnya, untuk menempatkan kedudukan perempuan untuk lebih terampil, terdidik dan menjadikan keluarga menjadi lebih bermartabat, mengapa justru hari ini kita menyaksikan sebuah gerakan yang sepertinya menarik kita mundur ke belakang, menempatkan perempuan dalam posisinya kembali sebagai sekedar pelengkap dari laki-laki? Tampaknya ada yang tidak beres dalam masyarakat kita, ketika konservatisme dalam kehidupan keberagamaan diam-diam merayap tanpa disadari menyungkup sebagian warga negara, dan dari beberapa penelitian justru telah menerpa sebagian generasi muda. Agama seharusnya memberikan inspirasi yang membebaskan manusia, bukan membelenggunya.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK portal kajanglako.com


Tag : #Sosok #Dewi Sartika #Pahlawan Nasional



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada