Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Kamis, 09 November 2017 17:31 WIB

Raden Mat Tahir, Singo Kumpeh yang Ditakuti Belanda

Reporter :
Kategori : Sosok

Ilustrasi perjuangan rakyat Jambi. Sumber foto: Museum Perjuangan Rakyat Jambi.

Oleh: Fachruddin Saudagar*

Salah seorang panglima perang Jambi yang terkenal dan ditakuti Belanda, selain Sultan Thaha Saifuddin, adalah Raden Mat Tahir. Nama Raden Mat Tahir muncul dalam berbagai versi, yaitu seperti G.J. Veld menuliskannya Raden Mat Tahir dan atau Mat Tahir; Raden Syarif (1969) menuliskan Raden Mat Tahir; Osman Situmorang (1973) menuliskan Raden Mattahir; Ratumas Siti Aminah Ningrat menuliskan Raden Mat Tahier; J. Tideman menuliskan Mattaher; Elsbeth Locher-Scholten (1994) menuliskan Mat Tahir; dan Mukti Nasruddin (1989). 



Raden Mattaher, biasa dipanggil Mat Tahir, merupakan anak dari Pangeran Kusin Bin Pangaren Adi. Pangeran Adi adalah saudara kandung Sultan Thaha Syaifuddin. Itu artinya, Sultan Thaha Syaifuddin merupakan kakek bagi Raden Mat Tahir.

Mat Tahir lahir di Dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, Air Hitam, Batin VI, pada 1871. Ibunya kelahiran Mentawak, Air Hitam Pauh yang dahulunya merupakan daerah tempat berkuasanya Temenggung Merah Mato.

Ayah Raden Mat Tahir, yaitu Pangeran Kusin wafat di Mekkah, sedangkan Mat Tahir sendiri gugur dalam pertempuran melawan tentara Belanda di Dusun Muarojambi pada Jumat subuh, 10 September 1907. Raden Mat Tahir dimakamkan di kompleks pemakaman Raja-Raja Jambi di tepi Danau Sipin, Kota Jambi.

Penyergapan Belanda

Awal 1900 Raden Mat Tahir bersama Pangeran Maaji gelar Pangeran Karto dan Panglima Tudak Alam dari Mentawak, melakukan penyergapan terhadap konvoi 8 jukung Belanda yang ditarik oleh kapal "Musi" di Tanjung Menyaringan.

Kapal dan jukung tersebut membawa senjata, perlengkapan perang, dan perbekalan dari Tembesi menuju Sarolangun. Persenjataan itu diperuntukkan membantu militer Belanda yang sedang bertempur di Benteng Tanjung Gagak.

Dalam penyergapan tersebut semua serdadu Belanda tewas dan persenjataan dirampas. Sementara para pegawai dari Palembang dan Jawa yang turut dalam kapal "Musi" menyerahkan diri dan meminta perlindungan pada pasukan Raden Mat Tahir.

Dampak penyerangan tersebut nama Raden Mat Tahir menjadi terkenal di masyarakat dan tentara Belanda, sehingga berkembanglah berbagai cerita dan mitos tentang kehebatan Raden Mat Tahir. Oleh Mat Tahir, sebagian senjata rampasan dikirimkan ke Tanah Garo, Merangin, Bangko Pintas, Tabir. Adapun Berita keberhasilan Raden Mat Tahir yang sampai di telinga Residen Belanda di Palembang membuat mereka sangat marah.

Pada 1901, pasukan Raden Mat Tahir kembali melakukan penyergapan pada pasukan Belanda yang berkedudukan di Sungai Bengkal dengan keberhasilan merampas senjata dan karaben Belanda. Dibantu pasukan Raden Usman dan Puspo Ali, dari Sungai Bengkal pasukan Raden Mat Tahir terus bergerak menyerang posisi Belanda di Merlung.

Selanjutnya, dari Merlung pasukan Raden Mat Tahir terus bergerak ke Labuhan Dagang, Tungkal Ulu. Bersama 40 orang pasukannya, Raden Mat Tahir dari Tungkal Ulu melalui Pematang Lumut bergerak menuju Sengeti menuju Pijoan. Di Pijoan bivak Belanda diserang dan hasil memperoleh banyak senjata karaben. Oleh Raden Pamuk gelar Panglima Panjang Ambur senjata-senjata tersebut diangkut ke Jelatang.

Pasukan Raden Mat Tahir bersama Raden Pamuk, dan Raden Perang gelar Panglima Tangguk Mato Alus, yang membawa pasukan yang terdiri dari Suku Anak Dalam dari Bahar pada pertengahan April 1901, menyerang pasukan Belanda di Banyu Lincir (Bajung Lincir).

Dalam penyerangan itu, selain menewaskan kepala Bea Cukai Belanda dan pengawalnya, juga dirampas senjata laras pendek dan uang sebesar f 5.000 serta 30.000 uang ringgit cap tongkat di dalam brangkas perusahan minyak. Dalam penyerangan itu, seorang pasukan Raden Mat Tahir tewas dan tiga lainnya luka-luka.

Pada 1902 pasukan Raden Mat Tahir di Tanjung Gedang Sungai Alai kembali melakukan penyerangan terhadap 30 buah jukung yang berisi serdadu Belanda. Jukung berhasil ditenggelamkan dan semua pasukan Belanda tewas.

Setibanya pasukan Raden Mat Tahir di Sungai Alai, secara kebetulan sedang berlangsung perang antara pasukan yang dipimpin oleh Panglima Maujud, Pangeran Suto, Panglima Itam dari Tanah Sepanggal, Rio Air Gemuruh, Rio Gereman Tembago dari Teluk Panjang dengan pasukan Belanda. Dahsyatnya perang itu membuat masyarakat di sekitarnya tidak berani mengambil air minum di Batang Tebo karena banyaknya mayat pasukan Belanda yang membusuk terapung di sungai.

Setelah bertempur di Sungai Alai, pasukan Raden Mat Tahir bergerak menuju Jambi menyerang kedudukan Belanda di Muara Kumpeh. Dalam perang itu, pasukan Raden Mat Tahir dibantu oleh Raden Seman, Raden Pamuk, Raden Perang, dan para kepala kampung dari Marosebo Ilir serta Jambi Kecil.

Kapal Belanda yang diserang adalah kapal perang yang baru datang dari Palembang. Konon keberhasilan penyerangan itu atas jasa seorang juru mesin kapal bernama Wancik yang merusak mesin kapal sehingga kapal tidak mampu berlayar. Juru mesin ini adalah seorang keturunan Palembang yang bersimpati dengan perjuangan Jambi. Dengan keberhasilan menyerang kapal Belanda itu Raden Mat Tahir diberi gelar Singo Kumpeh.

Hidup atau Mati

Menjelang akhir abad 19, Belanda menambah kekuatannya dengan mendatangkan pasukan dari Palembang, Jawa, dan Aceh ke Jambi. Mengantisipasi serangan Belanda, Sultan Thaha Syaifuddin menyusun strategi dengan membagi wilayah pertahanan, yaitu: 1) Raden Mat Tahir ditetapkan sebagai panglima perang, yang wilayahnya meliputi Jambi Kecil, Air Hitam Darat, Ulu Pijoan, Pematang Lumut, Bulian Dalam, Ulu Pauh, Payo Siamang, Jelatang, dan Pijoan; 2) Pangeran Haji Umar Bin Yasir bergelar Pangeran Puspojoyo, yaitu wilayahnya meliputi Batang Tembesi hingga Kerinci; dan Sultan Thaha Syaifuddin bersama Raden Hamzah gelar Diponegoro wilayahnya meliputi Batanghari dan Tembesi.

Strategi yang disusun Sultan Thaha Syaifuddin itu, nyatanya tidak berlangsung lama karena beberapa pimpinan tewas atau tertawan, seperti Sultan Thaha Syaifuddin sendiri tewas di Betung Bedara pada 27 April 1904; Pangeran Ratu Kartaningrat ditangkap Belanda dan diasingkan ke Parigi, Sulawesi Tengah; Depati Parbo dari Kerinci ditangkap dan diasingkan ke Ternate; Pangeran Haji Umar Puspowijoyo dan Pangeran Seman Jayanegara tewas di Pemunyian, Bungo di tahun 1906; Ratumas Sina di tahun 1906 ditangkap di Pemunyian; Raden Hamzah tewas di tahun 1906 di Lubuk Mengkuang; dan tahun yang sama Raden Pamuk ditangkap di Thehok, Jambi.

Raden Mat Tahir kerap kali berhasil meloloskan diri dari sergapan pasukan Belanda, sehingga itu ia disebut sebagai seorang yang keras kepala, tidak mudah ditaklukan, seorang lawan yang gesit, dan ditakuti.

Tak pelak, pemerintah Belanda melalui residen di Palembang  memerintahkan pasukan Marsose menangkap Raden Mat Tahir hidup atau mati. Pengejaran terhadap Raden Mat Tahir pun ditingkatkan dan dengan dibantu seorang Kapten Melayu, yang kemudian kedudukan Raden Mat Tahir di Muarojambi diserang. Serangan itu selain menewaskan Raden Mat Tahir, juga Raden Achmad gelar Raden Pamuk Kecik, dan Pak Gabuk, salah seorang pengawal Raden Mat Tahir.

Untuk memastikan kebenaran  bahwa yang tewas adalah Raden Mat Tahir, jenazah Raden Mat Tahir dibawa ke Jambi dengan menggunakan kapal "Robert" untuk diperlihatkan pada khalayak ramai. Atas permintaan para pemuka agama Islam, jenazah Raden Mat Tahir dimakamkan di kompleks makam Raja-Raja di tepi Danau Sipin, Jambi.

*Penulis merupakan sejarawan dan pengajar di FKIP Universitas Jambi. Belio meninggal pada 25 September 2013. Naskah ini disarikan oleh Budi Prihatna dari makalah dialog sejarah yang diselenggarakan oleh Museum Perjuangan Rakyat Jambi pada 12 Juli 2012. Kajanglako kembali melakukan penyuntingan seperlunya.

Ket: Singo Kumpeh merupakan julukan Belanda pada sosok Raden Mat Tahir, yang kerap berhasil melakukan penyerangan terhadap Belanda.


Tag : #Hari Pahlawan Nasional #Belanda #Jambi #Sumatra



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,