Kamis, 16 Juli 2020


Sabtu, 29 Februari 2020 09:14 WIB

Menjelang Akhir Penjelajahan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Setelah beristirahat sebentar, sampailah mereka di jalan yang terbentang di antara Moeara Laboeh dan XII Kota. Pk 14.30. Melihat jalan itu, para kuli bersorak gembira: “Alah laboeh gadang! Assalamualikum!” Itu jalan besar! Dalam waktu singkat, mereka sampai pula di Doerian Taroeng.



Beberapa orang keluar dan mengundang mereka untuk mampir ke rumah Toeankoe. Veth sudah menghilang karena sejak tadi, ia berjalan mendahului rombongan. Karena mengetahui bahwa rekannya seringkali malas berbasi-basi, Van Hasselt membiarkannya. Ia sendiri mampir ke rumah Toeankoe dan menikmati segala kudapan yang disajikan oleh isteri tuan rumahnya. Van Hasselt menyalami semua tangan yang disodorkan kepadanya. Pertanyaan datang bertubi-tubi dari segala arah dan ia berusaha menjawab semuanya. Tanpa terasa, hari sudah sore. Menjelang pk 17.00 barulah ia sampai di gudang kopi negari, tempatnya menginap.

Dari tiga orang kuli yang tersisa di dalam tim penjelajahan, dua orang muncul malam itu juga. Kuli yang ketiga, Si Akal, baru datang keesokan harinya. Ia tersesat, kemalaman dan terpaksa menginap semalam lagi di dalam hutan. Untunglah namanya Si Akal dan ia dapat menemukan jalan pulang ke gudang kopi.

Apakah mereka kini puas telah mendaki gunung Korintji sampai ke tempat tertinggi yang dapat dicapai? Apakah mereka sudah puas karena dapat melakukan pengamatan dan pengukuran alam sekitar gunung, puncak dan lembah Korintji serta hubungannya dengan daerah XII Kota? Apakah mereka puas telah mencatat banyak hal mengenai flora dan fauna di alam sekitaran gunung Korintji? Tentu saja. Akan tetapi, rasa senang dan puas itu pupus seketika setelah membaca berita mengenai kematian mendadak rekan mereka, Schouw-Santvoort.

Pada tanggal 15, keesokan harinya, van Hasselt menyibukkan diri dengan menulis aneka surat dan membereskan administrasi penjelajahan. Ia membayarkan honor para pemandu: ƒ3,50 per orang. Veth, yang tugasnya sudah selesai di daerah ini, berangkat beberapa hari kemudian ke Moeara Laboeh. Beberapa hari sebelumnya, enam orang kuli sudah berangkat duluan, membawa barang-barang dan peralatannya. Sementara itu, Snelleman pun sibuk mempersiapkan keberangkatannya dari Bedar Alam ke Loeboe Gedang. Ia tiba tanggal 19 Desember.

Awal Oktober lalu, mereka menerima surat keputusan pemerintah Hindia-Belanda yang melarang mereka melampaui perbatasan wilayah Belanda di Dataran Tinggi Padang. Karena itu, van Hasselt meragukan bahwa mereka masih dapat melakukan penjelajahan ke arah tenggara. Setelah menerima surat larangan itu, Van Hasselt segera meminta izin untuk mengunjungi Talau dan beberapa negari di sebelah selatan XII Kota. Akan tetapi, belum ada jawaban atas permohonannya itu.

Di Moeara Laboeh, Veth menyelesaikan tugas-tugas yang masih harus diselesaikannya di dusun itu, Soerian dan Alahan Pandjang. Sambil menunggu jawab atas suratnya yang terakhir, van Hasselt dan timnya bersiap-siap untuk menyusul Veth bila pemerintah menolak permohonannya. Mudah-mudahan pemerintah cepat memberikan jawaban positif. Musim hujan, yang semakin lama semakin dekat dan mulai menunjukkan kuasanya menimbulkan bayangan suram tentang penjelajahan di rimba-raya dalam cuaca seperti itu. Tambahan lagi, anggaran ekspedisi sudah semakin menipis. Dengan berat hati, van Hasselt sudah harus menentukan waktu untuk meninggalkan tempat ini, kembali ke Padang  dan mengakhiri penjelajahan.

Waktu beberapa hari yang masih tersisa di Loeboe Gedang dihabiskan dengan menyenangkan. Van Hasselt merasa mendapatkan waktu tambahan untuk mengenal lebih baik penduduk daerah itu.  Pada suatu hari, serombongan perempuan melewati rumah mereka. Mereka berpakaian rapi dan ceria. Di kepala, mereka membawa doelang. Rupanya akan ada sebuah pesta perkawinan. Mereka merupakan kerabat-kerabat perempuan calon mempelai lelaki. Pada saat itu, mereka dalam perjalanan ke rumah calon pengantin perempuan untuk menyampaikan antaran pesta.

Saat lain, Si Alei dari soekoe Panei, menyembelih kerbau. Ini dilakukan untuk memenuhi syarat upacara lain lagi. Empat bulan sebelumnya, suami dan anaknya meninggal dunia. Konon, kerbau yang disembelih itu akan berubah wujud menjadi kuda yang dapat ditunggangi oleh kedua orang yang dicintainya di padang moehasar (kata ‘moehasar’ berasal dari kata ‘mahsjar’ dalam bahasa Arab, yang berarti tempat pertemuan). Daging kerbau itu dibagi di antara  ‘malim’ dan ‘siak’ yang berjumlah empat puluh empat orang. Kepala Laras dan Penghoeloe Kepala pun mendapatkan bagian. Penghoeloe Kepala menyumbangkan sebagian jatah dagingnya untuk para penjelajah Belanda itu.

Mereka juga pernah menerima jatah daging kerbau ketika anak Lenggang Maradja sembuh dari sakitnya. Ketika anak itu sakit, ayahandanya berkaul, bila anaknya sembuh, ia akan menyembelih kerbau dan menyelenggarakan selamatan, mengundang para ‘siak’, para penghoeloe dan raja, para kerabat serta teman. Anak itu sembuh. Dan, janji yang telah diucapkan pun dilaksanakan. Pada waktu selamatan itu, setiap orang tamu membawakan uang 5 sen atau ‘sating’ emas untuk ‘pangkalan’, yaitu tuan rumah. Sumbangan itu diserahkan kepada Penghoeloe Kampung dan berfungsi sebagai sumbangan penyelenggaraan selamatan.

Sehari sebelum selamatan, tiga orang diutus untuk mengundang secara pribadi semua tamu. Untuk keperluan itu, mereka menyiapkan dan membawa bungkusan-bungkusan daun sirih (yang sudah dilengkapi bahan untuk menyirih). Bungkusan-bungkusan sirih ditawarkan kepada orang yang hendak diundang sambil bertanya: “Angkoe naq datang bafsoewq ka roemah dèn mamakan kabo?" (Apakah Angkoe hendak datang mampir ke rumah, makan kerbau?). Dan, yang diundang menjawab: “InsyaAllah”. Hanya kaum lelaki saja yang diundang resmi dan mendapatkan bungkusan sirih yang dibawa, akan tetapi undangan itu  juga berlaku bagi kerabat perempuan si pemilik rumah.

Biasanya, dalam acara seperti ini, sebelum makan bersama-sama, acara dibuka dengan aneka permainan dan adu ayam.

Siang-siang, pada hari diadakannya selamatan itu, van Hasselt dan timnya sudah datang. Orang di rumah itu sibuk menyiapkan segala sesuatu dan masak. Seseorang menyajikan lamang dan kue goreng. Di dalam rumah, orang bermain kartu dan di halaman, beberapa orang mencari batang-batang bambu untuk permainan sirah-poetik. Dalam permainan keberuntungan ini, beberapa uang koin dilemparkan ke udara dan orang-orang yang bermain menebak sisi yang akan tampak bila koin itu jatuh di tanah.

Walaupun, dalam pesta-pesta serupa lelaki dan perempuan terpisah, di tempat ini isteri Toeankoe dan anak-anaknya serta isteri-isteri kepala-kepala adat lainnya ikut bergabung di satu sisi rumah itu. Melihat itu, van Hasselt bertanya-tanya sendiri: apakah kehadiran kaum perempuan di situ (bersama-sama kaum lelaki) merupakan imbas dari struktur pemerintahan raja yang sudah sejak lama berlaku di XII Kota? Entahlah.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Ekspedisi Sumatra Tengah #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Rabu, 15 Juli 2020 16:37 WIB

Hasil Lab PCR dari Swab ke-2 Pasien di Secapa AD


Kajanglako.com, Jambi - Pagi ini Rabu (15/7/20) ada 116 pasien LAGI yang dinyatakan negatif. Sementara itu, hasil pemeriksaan Lab PCR dari Swab ke-1 yang

 

Rabu, 15 Juli 2020 14:10 WIB

Turun dari Heli, Tim Wasev TMMD Disambut Tarian Sekapur Sirih


Kajanglako.com, Jambi - Kedatangan Tim Wasev TMMD ke-108 Kodim 0419/Tanjab yang dipimpin oleh Mayjen TNI Arif Rahman M A dan di dampingi oleh Komandan

 

Selasa, 14 Juli 2020 22:59 WIB

Muncul Akun FB Catut Nama dan Foto Sekda Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Pengguna jejaring media sosial Facebook dihebohkan dengan munculnya akun Facebook mengatasnamakan pejabat tinggi Pemrpov Jambi. Akun

 

Selasa, 14 Juli 2020 22:51 WIB

Ombudsman Terima Aduan terkait PPDB Online


Kajanglako.com, Jambi - Ombudsman RI Perwakilan Jambi menerima laporan terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2020. Ada satu laporan resmi

 

Selasa, 14 Juli 2020 22:43 WIB

Gubernur Fachrori Dipanggil Presiden, Serapan Anggaran Rendah


Kajanglako.com, Jambi - Hingga Pertengahan Juli 2020 ini, serapan anggaran Pemprov Jambi masih terbilang rendah, yaitu baru mencapai 34-35 persen. Pj Sekda