Sabtu, 04 April 2020


Rabu, 26 Februari 2020 07:52 WIB

Semsar Siahaan

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Ketika Taman Ismail Marzuki (TIM) direnovasi tahun 1994, Semsar Siahaan, mengubah bangunan yang berantakan itu menjadi media instalasi ekspresi senirupanya. Kebetulan,  saat TIM sedang  porak poranda itu, bersamaan dengan berlangsungnya Binneale Jakarta IX. Ekspresi berkesenian Semsar di mata saya mengingatkan karya-karya seniman zaman perjuangan yang berkesenian sebagai alat perlawanan terhadap ketidakadilan, merebut kemerdekaan. Lukisan-lukisannya selalu menggambarkan wajah-wajah yang penuh semangat di satu sisi dan figur-figur buruk birokrat dan tiran di sisi lain. Pertentangan kelas selalu ditampilkannya sebagai tema dari lukisan-lukisannya.



Bagi Semsar, kemerdekaan dan keadilan, bukan bagi si senimannya sendiri, tapi bagi rakyat,  itu tampaknya yang menjadi kredo keseniannya. Di dinding tembok-tembok TIM yang tinggal setengah badan itu, selain goresan kasar kuasnya dalam lukisan-lukisan realis dan surealis itu, tertulis berbagai kata-kata anti posmo, yang saat itu juga mulai jadi mode seniman dan intelektual Indonesia. Semsar seperti menggebrak dunia kesenian dan intelektual untuk kembali melihat kenyataan yang ada, masyarakat yang tertindas dan miskin.

Di lantai yang sedang dibongkar itu Semsar membuat kubangan dan di dasarnya dia bentuk sosok-sosok seperti mayat bergelimpangan. Saat Semsar membentuk torso-torso dalam pameran yang dia beri nama "Penggalian Kembali" itu, saya menyaksikan Sardono W Kusumo, didampingi istrinya Amna, asik memainkan handycam-nya merekam apa yang sedang berlangsung di situ. Kalau itu terjadi sekarang mungkin cukup direkam dengan  HP seperti saya selalu lihat Tanto Mendut merekam kegiatan rekan-rekan lima gunungnya.

sumber: ivaa-online-org.

Semsar Siahaan, meninggal dalam usia muda di Bali yang dia pilih untuk ditinggali setelah sebelumnya tinggal di Kanada sehabis mengalami pengalaman-pengalaman getir di tanah airnya sendiri. Kakinya patah kena gebug tentara ketika bersama penyair WS Rendra dan lain-lain melakukan demo menentang pembredelan majalah Tempo, Editor dan Detik Juni 1994 di depan kantor Departemen Penerangan di Jl Merdeka Barat. Luka dan tulang kakinya yang retak membuatnya harus berobat cukup lama dan harus menggunakan krek untuk membantunya berjalan. Jenasah Semsar dimakamkan di Bengkel Teater Rendra di Cipayung Bogor.

Membaca potongan-potongan berita tentang riwayat hidupnya, saya membayangkan Semsar sebagai perupa yang memilih jalan aktifisme sebagai panggilan hidupnya. Jalan aktifisme berarti melakukan aksi kongkrit yang dia tahu penuh resiko. Ketika masih menjadi mahasiswa di jurusan senirupa ITB dia membakar patung dosennya yang menurutnya mencerminkan sebuah hipokrisi. Kejadian yang menghebohkan itu sontak membuat namanya terkenal sebagai mahasiswa dan pelukis muda pemberang.

TIM yang dibangun Ali Sadikin, gubernur DKI yang diangkat oleh Sukarno sebelum dikudeta Suharto, hari-hari ini sedang didekonstruksi - meminjam istilah kaum posmo - oleh Anies Baswedan, gubernur DKI yang memenangi pemilihan dengan mengendarai politik identitas. Pembongkaran TIM yang ditentang banyak seniman karena ingin diubah menjadi hotel dan mal memperlihatkan rendahnya citarasa seni sang gubernur.  Kisruh yang terjadi di TIM, hanyalah salah satu saja dari beberapa kisruh yang terjadi setelah Anies Baswedan menjadi gubernur DKI Jakarta.

Sebelumnya ada kisruh Aica-Aibon yang lucu, menyusul kisruh banjir tahun baru yang  terus mengundang perdebatan tidak bermutu, naturalisasi apa normalisasi sungai, melupakan korban banjirnya sendiri. Kisruh paling hangat adalah heboh penebangan pohon dan akan digelarnya balap mobil Formula E di lapangan Monas. Ketika sebagian warga Jakarta masih terus dilanda banjir, keinginan gubernurnya menggelar balap mobil dengan anggaran negara miliaran dengan cara merusak lingkungan dan menggusur cagar budaya, adalah kebijakan konyol.

Tapi Anies Baswedan bukan orang bodoh,  dia doktor ilmu politik dari Amerika Serikat, baginya ini memang strategi nina-bobok, mengalihkan perhatian publik pada ilusi komodernan, melupakan kondiisi riil yang memerlukan langkah kongkrit meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Anies Baswedan memang bukan orang yang cocok untuk menjadi pejabat publik, dia terbukti memang tidak memiliki kemampuan untuk membenahi Jakarta. Seorang rekan, mengibaratkannya seperti “katak yang ingin jadi lembu”.

Saya membayangkan jika Semsar masih hidup pastilah ia akan melibatkan diri dalam gerakan perlawanan terhadap pembodohan publik ini. Hampir bisa dipastikan dia akan bergabung dengan para seniman yang memprotes pembongkaran TIM dan dia juga akan terlibat dengan gerakan dari mereka yang ingin menyelamatkan lingkungan cagar budaya dan kawasan hijau di seputar Monas.

Kepeduliannya  terhadap lingkungan tidak saja dia tuangkan dalam kanvas, tapi juga dengan bergabung pada tahun 1980an dengan SKEPHI (Sekretariat Kerjasama Perlindungan Hutan Indonesia), sebuah LSM progresif yang dipimpin oleh mantan aktifis ITB, Indro Tjahjono. Saat itu kita tahu, kerusakan hutan belum separah sekarang, gerakan penyelamatan lingkungan terbukti  tidak mampu menahan laju penebangan hutan tropis, ketika hutan-hutan dikonversi menjadi kebun kelapa sawit. Saat ini, hutan-hutan yang tersisa di Papua tinggal menunggu waktu saja untuk dihabisi. Gerakan masyarakat sipil, atas nama pelestarian lingkungan maupun penyelamatan komunitas adat, mungkin sudah waktunya mengaca diri, tidakkah perlu dicari cara dan strategi perlawanan yang lain?

Karya instalasi Semsar Siahaan "Penggalian Kembali" di TIM, 1994. Sumber:Ivaa-online.org

Mengingat kembali Semsar Siahaan, dengan wajah legam dan rambut hitam ikal serta sorot matanya yang tajam mengiris; seperti menghidupkan kembali hasrat dan kerinduan kita akan sebuah gerakan kesenian yang melebur dan meluluhkan diri dengan gelora denyut nadi rakyat. Rakyat, sebuah entitas sosial yang sesungguhnya tidak pernah jelas, siapa yang yang dimaksud dengan kata rakyat itu. Hari ini, masihkan kita percara dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat? Reformasi politik yang tadinya kita harapkan bisa merubah nasib rakyat, saat ini terbukti seperti meninggalkan rakyat. Ditengah agenda besar Jokowi untuk mengubah keadaan, tantangan terbesar yang dihadapinya justru datang dari para wakil rakyat yang lebih mengutamakan kepentingan elite partai politik yang juga mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Rakyat yang kita rindukan, sebagaimana Semsar Siahaan selalu mengidentikkan dirinya, mungkin adalah rakyat dalam ekspresinya semasa perjuangan kemerdekaan, ketika tentara pun adalah laskar-laskar rakyat. Rakyat adalah sebuah imajinasi tentang geliat perlawanan merebut kemerdekaan, kebebasan dan keadilan. Mungkin sudah waktunya kita meninjau kembali kata rakyat, ketika semakin hari semakin kabur apa yang kita maksudkan sebagai rakyat. Penduduk? Warganegara? Atau siapa?

Hari-hari ini ketika imajinasi kita tentang rakyat seperti digambarkan oleh Semsar Siahaan dalam lukisan-lukisannya, telah semakin kabur, didekonstruksi menjadi umat oleh politik identitas yang direkayasa oleh para "ethnic enterpreneur" untuk merebut kekuasaan, sebagai sebuah bangsa kita sejatinyya sedang mengalami krisis identitas.  Bukan hal yang aneh ketika para analis politik mulai berbiara tentang populisme, sebagai representasi dari “the people” kata Vedi Hadiz. Tapi siapa “the people” dalam konteks Indonesia? Rakyat?

Kita, jangan-jangan sedang melewati sebuah tikungan tajam yang berbahaya, mungkin jika Semsar masih ada dia akan menggebraknya melalui lukisan-lukisannya yang abstrak surealis tapi sekaligus realis itu. Manubilis mungkin akan digambar lagi tapi dengan wajah para tiran yang baru, bukan saja muka politisi busuk tapi wajah tiran-tiran baru yang sering mengatasnamakan umat, “the People” ?.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk jurnal, buku dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK portal kajanglako.com


Tag : #Sosok #Semsar Siahaan #Senirupa #TIM



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada