Sabtu, 04 April 2020


Sabtu, 22 Februari 2020 10:18 WIB

Selamat Tinggal, Puncak Korintji

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Menjelang pk. 11.00, mulai semakin banyak awan bergumpal dan menyatu di puncak. Sesekali, angin bertiup kencang dan gumpalan awan itu pecah, tercerai-berai dan tampaklah alam di kaki gunung. Sesekali dan hanya sesaat. Lalu, awan itu seolah-olah hendak mencari kawan dan bergumpal lagi. Mereka terpaksa menghentikan kegiatan.



Apa yang selama ini, sejak dari Loeboe Gedang sampai ke dekat puncak gunung, dapat diceritakan tentang fauna—binatang-binatang di daerah ini? Beberapa kata saja cukup. Tak banyak yang dapat diceritakan. Tak ada binatang besar yang sempat tertangkap mata. Namun, jejak-jejak yang ditinggalkan badak menunjukkan bahwa binatang itu tidak naik sampai ke ketinggian 2600 meter di atas permukaan laut. Gajah menghentikan penjelajahannya di ketinggian 1500 meter di atas permukaan laut. Hanya kambing hutan yang dapat bertahan hidup di atas bebatuan yang tak ramah di gunung. Tampaknya kambing-kambing liar itu memilih tinggal di gua dan celah-celah bebatuan untuk berlindungan dari hujan dan angin. Bahkan di dekat puncak gunung, masih tampak jejak-jejak yang ditinggalkan kambing hutan.

Halnya serangga lain lagi. Di dekat puncak, mereka menemukan lebah, lalat-lalat besar, kumbang-kumbang kecil berwarn hitam dan beberapa kupu-kupu. Tampak juga burung poenei yang berbulu kecoklatan dan beberapa burung yang lebih kecil, bersayap hijau dengan kepala yang berwarna merah. Lintah tak ada lagi di atas ketinggian 1300 meter dan laba-laba, terutama yang tidak membuat jaring untuk menangkap mangsanya melainkan langsung melompat ke tubuh mangsanya, masih tampak di ketinggian di atas 3000 meter.

Setelah siang, mereka mengucapkan selamat tinggal pada puncak gunung. Mereka mulai turun ke perkemahan yang terakhir. Sedapat mungkin, mereka berjalan berjauhan satu sama lain. Jalan beriringan dekat menyebalkan karena hampir setiap langkah membuat bebatuan yang diinjak terpelanting ke segala arah dan hampir pasti mengenai kepala orang yang berjalan persis di depan kaki yang membuat batu itu terpelanting. Perjalanan turun gunung itu memakan waktu dua jam.

Pada hari kedelapan sejak meninggalkan Loeboe Gedang, mereka sudah berhasil mencapai tujuan: mendaki Korintji sampai ke titik yang tertinggi. Tak mudah dilakukan. Kesehatan para kuli semakin memburuk dan bekal makanan semakin tipis. Sepanjang perjalanan, anggota tim yang Melayu hanya makan nasi dan garam saja. Bayangan adanya lauk berupa ikan sarden dari kaleng membuat air liur menitik.

Keesokan harinya, mereka masih berusaha sekali lagi untuk naik ke puncak, setidak-tidaknya ke tempat yang menawarkan pemandangan ke arah gunung-gunung utama di Dataran Tinggi Padang. Gunung-gunung itu masih harus diperkirakan letak dan ketinggiannya. Sayangnya, alam tak banyak membantu usaha mereka. Awan bergerak, menyatu, bercerai-berai dan menyatu lagi. Menjelang pk. 09.00, selimut awan itu sudah begitu tebal dan tak ada lagi yang dapat dilihat. Tak ada yang dapat diukur.

Mengingat perbekalan makanan sudah betul-betul tipis, mereka memutuskan untuk mengakhiri pendakian itu. Sebelum meninggalkan tempat itu, Toeankoe Doerian Taroeng mengulurkan selembar kain putih untuk dipasang sebagai bendera. Barangkali, sekedar penanda bahwa sudah ada orang yang berhasil sampai ke puncak Korintji.

Perjalanan pulang berjalan lancar. Tampaknya para kuli bersemangat pulang. Dalam waktu singkat, mereka sudah menyiapkan pondok dan membongkar perbekalan. Setiap orang menyelipkan bebungaan di tutup kepala mereka. Baru beberapa langkah saja mereka meninggalkan puncak, awan mulai berkumpul dan puncak itu tertutup dari pandangan. Para kuli yang berjalan lebih lamban pun menghilang tertutup kabut dan awan. Satu jam kemudian mereka sudah hampir tiba di pondok. Batang-batang djirah padang yang tadinya dibawa untuk membantu berjalan ke puncak gunung, ternyata bermanfaat pula ketika turun gunung. Di kemudian hari, batang-batang djirah padang itu dibentuk menjadi tongkat yang halus dan bagus. Ternyata kayu dari pohon itu memang cocok sekali untuk dibuat tongkat.

Dalam waktu sejam, mereka sudah tiba di perkemahan terakhir dan sejam lagi diperlukan untuk tiba di perkemahan sebelumnya. Perjalanan turun di trayek itu—yang hanya memerlukan waktu 2 jam saja, menghabiskan waktu 10 hari ketika mereka mulai mendaki! Bukan main. Sambil menunggu kedatangan para kuli, mereka menyiapkan penginapan untuk malam itu. Hampir setiap orang  mengganti pakaian. Hujan turun dalam perjalanan mereka dan berkali-kali mereka tergelincir di atas bebatuan di dasar sungai. Setiba di perkemahan, tak seorang pun masih berpakaian kering. Pun para kuli beberapa kali tergelincir di dalam air. Mereka baru tiba, seorang demi seorang, menjelang pk 16.00, dengan pakaian basah-kuyup.

Suhu udara yang terasa lebih hangat mengherankan (dibandingkan dengan dingin yang menyiksa di puncak). Semua orang menikmati kehangatan itu. Setelah makan dan mandi, mereka masih berlama-lama duduk mengobrol. Lalu, tempat tidur memanggil dan mereka tertidur pulas.

Pk 06.30 keesokan harinya, 14 Desember, mereka sudah berangkat lagi. perjalanan itu berlangsung cepat dan kira-kira tiga jam kemudian, mereka sudah tiba di sungai-sungai kecil yang airnya mengalir masuk ke perairan Soengei Timboeloen. Mereka menyusuri sungai itu sampai ke celah bebatuan tempat mereka menginap di malam pertama. Istirahat sebentar saja di sana sudah cukup untuk mengembalikan tenaga sambil menunggu kuli-kuli yang berjalan lebih lamban.

Pk 12.00, tengkorak di atas tonggak di tepian sungai menyambut kedatangan mereka. Mereka menyusuri sungai itu selama empat puluh lima menit. Menelusuri sungai itu bukanlah pekerjaan mudah. Seringkali mereka terpaksa berjalan di dalam air yang membasahi kaki sampai di atas lutut.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah #Sejarah Jambi



Berita Terbaru

 

Sabtu, 04 April 2020 09:45 WIB

Cek Posko Corona Tengah Malam, Al Haris Semangati Petugas Piket


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin, Al Haris, memantau posko siaga pencegahan Covid-19 di perbatasan Merangin-Kerinci, Jumat (4/3/20) malam. Dalam

 

Jumat, 03 April 2020 22:27 WIB

Cek Endra Serahkan Bantuan APD untuk Penanganan Covid-19 di Kabupaten Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Bupati Sarolangun H Cek Endra menyerahkan bantuan alat pelindung diri (APD) bagi para tenaga medis di Puskesmas maupun di

 

Jumat, 03 April 2020 19:37 WIB

Gubernur Terbitalkan SE Terbaru Perpanjang WFH ASN Pemprov Jambi


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, mengeluarkan Surat edaran (SE), Nomor:- SE/GUB.BKD-4.111V/2020 tentang perubahan atas surat edaran

 

Jumat, 03 April 2020 19:32 WIB

Gubernur Video Conference dengan Bupati Walikota Bahas Penanganan Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Rapat Online Gubernur Jambi Fachrori Umar, bersama Bupati dan Wali Kota se Provinsi Jambi dalam upaya penanganan serta pencegahan

 

Jumat, 03 April 2020 15:08 WIB

Solidaritas Pangan Perpus Rakyat untuk Masyarakat Terdampak Covid-19


Kajanglako.com, Jambi - Wabah virus Corona atau Covid-19 masih terus berlangsung di tanah air. Beberapa pihak menyatakan bahwa virus ini akan terus ada